Senin, 07 Juli 2014





Cerita rakyat menjadi sebagai bentuk adanya karya sastra lisan yang disampaikan dari mulut ke mulut dan diwariskan secara turun temurun. Cerita rakyat Guci di Kabupaten tegal merupakan salah satu sastra lisan yang ada di daerah Tegal. Keberadaan sastra lisan tidak dapat dipungkiri adanya oleh masyarakat. Keberadaanya dimiliki bersama oleh masyarakat.
Cerita rakyat Guci bermula dari seorang tokoh yang bernama Mbah Kyai Klitik. Pada zaman dahulu kala Nyai Mas Rantang  Sari adik kandung Nyai Mas Sekar Wangi atau Nyai Roro Kidul atau Ratu pantai laut selatan, diperintahkan oleh beliau untuk membawa dan meletakan Cupu atau Guci dan batu mustika Kecubung Wulung. Lalu berangkatlah Nyai Mas Dewi Rantang Sari dan ditemani oleh Nyai Mas Dewi Cundo Manik seorang panglima perangnya laut pantai selatan. Guci diletakan dipancuran 7 batu mustika Kecubung Wulung diletakan di Tuk Peturukan atau Pengasihan. Setelah keduanya meletakan Guci dan batu tersebut, beliau Nyai Mas rantang sari berkata : “Saksikanlah wahai parai pasukanku dan para penghuni di lereng kaki Gunung Slamet, Bahwa suatu mangsa nanti air pancuran tuk 7 ini akan jadi obat penyembuh bagi siapa saja yang mempunyai penyakit kusta atau kulit, dan bisa mengembalikan aura kemudaan“.
Pada suatu masa datanglah seorang ulama alim dasn sakti mandraguna dari Demak, pada masa penjajahan Belanda pada tahun 1939 yang bernama “Syekh Abdul Manan”  dengan julukan Mbah Klitik.
Kenapa orang memanggil dengan julukan Mbah Klitik, yaitu pada suatu saat beliau perang Kemerdekaan dan setiap pasukan atau rombonganya “Abdul Manan” dilempari granat oleh serdadu belanda, granatnya tidak meledak Cuma menggeluntung hanya berbunyi Mak klitik-klitik. Akhirnya Mbah Abdul Manan dijuluki Mbah Klitik.
Berita keberadaan Guci diketahui dan didengar oleh Bupati Brebes pertama yang bernama “Kanjeng Raden Puspo Negoro” akhirnya beliau memerintahkan juru kusir kuda  atau pangonya yang sakti mandra guna yaitu Ki Joko Poleng untuk mengecek keberadaanya dan kebenaran Guci tersebut di lereng kaki Gunung Slamet. Setelah beliau sampai di lereng kaki Gunung Slamet bertemulah beliau dengan Kyai Klitik untuk memberitahukan kaedatanganya serta maksud dan tujuanya, akhirnya Mbah Klitik menunjukan keberadaan Guci tersebut. Kemudian mengambilnya dan langsung diserahkan kepada Ki Joko Poleng untuk diserahkan kepada Kanjeng Bupati Brebes Raden Puspo Negoro. Setelah benda tersebut diserahkan kepada beliau, lalu berankat ke Kadipaten Cirebon untuk menyerahkan Guci tersebut kepada Sunan Gunung Jati, Syekh Syarif Hidayatullah untuk pengeling pepunden kasepuhan Negara di Kadipaten Cirebon. Akhirnya Guci tersebut diletakan di keraton Kesepuhan.  Sampai sekarang  Cupu atau Guci tersebut untuk nama Gerbang Istana Kerajaan Cirebon, dengan nama “CUPU ASTANAGAPURA”.
Mulai terkupasnya Guci tersebut, di lereng  kaki Gunung Slamet mulai saat itu hingga sekarang dinamakan Desa Guci, yang tempatnya beberapa Km dari arah selatan kota Tegal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar