Cerita rakyat menjadi sebagai bentuk
adanya karya sastra lisan yang disampaikan dari mulut ke mulut dan diwariskan
secara turun temurun. Cerita rakyat Guci di Kabupaten tegal merupakan salah
satu sastra lisan yang ada di daerah Tegal. Keberadaan sastra lisan tidak dapat
dipungkiri adanya oleh masyarakat. Keberadaanya dimiliki bersama oleh masyarakat.
Cerita rakyat Guci bermula dari seorang
tokoh yang bernama Mbah Kyai Klitik. Pada zaman dahulu kala Nyai Mas
Rantang Sari adik kandung Nyai Mas Sekar Wangi atau Nyai Roro Kidul
atau Ratu pantai laut selatan, diperintahkan oleh beliau untuk membawa dan meletakan
Cupu atau Guci dan batu mustika Kecubung Wulung. Lalu berangkatlah Nyai Mas
Dewi Rantang Sari dan ditemani oleh Nyai Mas Dewi Cundo Manik seorang panglima
perangnya laut pantai selatan. Guci diletakan dipancuran 7 batu mustika
Kecubung Wulung diletakan di Tuk Peturukan atau Pengasihan. Setelah keduanya
meletakan Guci dan batu tersebut, beliau Nyai Mas rantang sari berkata :
“Saksikanlah wahai parai pasukanku dan para penghuni di lereng kaki Gunung
Slamet, Bahwa suatu mangsa nanti air pancuran tuk 7 ini akan jadi obat
penyembuh bagi siapa saja yang mempunyai penyakit kusta atau kulit, dan bisa
mengembalikan aura kemudaan“.
Pada suatu masa datanglah seorang ulama
alim dasn sakti mandraguna dari Demak, pada masa penjajahan Belanda pada tahun
1939 yang bernama “Syekh Abdul Manan” dengan julukan Mbah Klitik.
Kenapa orang memanggil dengan julukan
Mbah Klitik, yaitu pada suatu saat beliau perang Kemerdekaan dan setiap pasukan
atau rombonganya “Abdul Manan” dilempari granat oleh serdadu belanda, granatnya
tidak meledak Cuma menggeluntung hanya berbunyi Mak klitik-klitik. Akhirnya
Mbah Abdul Manan dijuluki Mbah Klitik.
Berita keberadaan Guci diketahui dan
didengar oleh Bupati Brebes pertama yang bernama “Kanjeng Raden Puspo
Negoro” akhirnya beliau memerintahkan juru kusir kuda atau pangonya
yang sakti mandra guna yaitu Ki Joko Poleng untuk mengecek keberadaanya dan
kebenaran Guci tersebut di lereng kaki Gunung Slamet. Setelah beliau sampai di
lereng kaki Gunung Slamet bertemulah beliau dengan Kyai Klitik untuk
memberitahukan kaedatanganya serta maksud dan tujuanya, akhirnya Mbah Klitik
menunjukan keberadaan Guci tersebut. Kemudian mengambilnya dan langsung
diserahkan kepada Ki Joko Poleng untuk diserahkan kepada Kanjeng Bupati Brebes
Raden Puspo Negoro. Setelah benda tersebut diserahkan kepada beliau, lalu
berankat ke Kadipaten Cirebon untuk menyerahkan Guci tersebut kepada Sunan
Gunung Jati, Syekh Syarif Hidayatullah untuk pengeling pepunden kasepuhan
Negara di Kadipaten Cirebon. Akhirnya Guci tersebut diletakan di keraton
Kesepuhan. Sampai sekarang Cupu atau Guci tersebut untuk
nama Gerbang Istana Kerajaan Cirebon, dengan nama “CUPU ASTANAGAPURA”.
Mulai terkupasnya Guci tersebut, di
lereng kaki Gunung Slamet mulai saat itu hingga sekarang dinamakan
Desa Guci, yang tempatnya beberapa Km dari arah selatan kota Tegal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar